Penanganan Quality Qontrol Perusahaan Tempat PI
Departemen PQL (Plant Quality Control and Laboratory) merupakan salah satu departemen di PT Nutrifood Indonesia yang memiliki tugas untuk melakukan pengawasan terhadap kualitas produk yang dihasilkan oleh PT Nutrifood Indonesia dengan inspeksi yang dilakukan sesuai dengan standard operasional prosedur yang berlaku. Selaln pegawasan terhadap produk, departemen PQL juga bertugas untuk menjamin kesesuaian alat ukur yang digunakan dengan melakukan verifikasi berkala terhadap alat-alat yang digunakan dan kegiatan kalibrasi.
Inspeksi / Pengetesan merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan dengan mengamati suatu atau beberapa karakteristik tertentu dari barang produksi meliputi bahan baku, bahan kemas, barang dalam proses (WIP), dan produk jadi (reference sample) sesuai dengan standard operasional prosedur yang berlaku dengan membandingkan dengan spesifikasi atau standar yang berlaku. Sementara itu, pengendalian alat ukur mencakup kegiatan perencanaan, pemilihan, pemeliharaan, dan kalibrasi alat-alat ukur yang digunakan dalam proses inspeksi dan pengetesan mutu. Pemantauan reference sample meliputi kegiatan inspeksi dan pengetesan yang dilakukan secara periodik atas sejumlah sample.
Sub Bagian Quality control
1. QC Bahan Baku
2. QC Bahan Kemas
3. QC Work In Process
4. QC Reference
5. QC Kalibrasi
6. QC RTD
Setiap sub bagian quality control memilki tugas dan tanggung jawab masing-masing yang saling berhubungan membentuk suatu kesatuan Quality Control yang solid.
Penanganan Limbah Perusahaan Tempat PI
Limbah yang ada di pabrik PT NUTRIFOOD INDONESIA terdiri dari limbah padat cair dan gas.
a. Limbah Padat,
Limbah padat terdiri dari kardus,plastic,sisa kayu pallet,sisa-sisa kemasan dan sebagainya. Penanganan limbah padat adalah dengan cara ada yang didaur-ulang, seperti kayu bekas untuk dijadikan pallet baru, adapula limbah padat yang dijual ataupun yang discrap.
b. Limbah Cair
Limbah cair berupa asam/basa sisa-sisa proses Cleaning in place , sisa pencucian, sisa produksi dan sisa proses sanitasi. Penanganan limbah Cair adalah dibuat IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) kemudian disalurkan ke kolam indicator yang berisi ikan sebelum dibuang kesungai.
c. Limbah Gas
Limbah gas dari pabrik contohnya adalah gas metan. Penanganan limbah gas ini adalah dengan cara dilakukan pembakaran gas metane sebelum dibuang ke udara lepas.
Produk hasil olah dan sasaran pemakai local/Eksport/ Import Perusahaan Tempat PI
Produk-produk PT NUTRIFOOD INDONESIA telah diekspor lebih dari 20 negara. Juga untuk pasaran dalam negeri yang mengalami peningkatan tiap tahunnya.
Pola Kerjasama, Anak binaan Usaha, dari Perusahaan Tempat PI
PT NUTRIFOOD INDONESIA memiliki Kerjasama dan Anak binaan Usaha yang saling padu dalam memproduksi makanan dan minuman kesehatan, diantaranya adalah PKIS Sekar Tandjoeng, Buana Tirta Usaha, PT Greenfield Indonesia, PT Makindo, PT Kobe lina, dan PT Quindofood. Dengan berbagai macam produk dari berbagai pabrik, maka kebutuhan dari konsumen dapat terpenuhi.
Kepedulian ke Lingkungan sekitar Perusahaan Tempat PI ( beasiswa, Rekruit tenaga kerja sekitar, dana social, pengabdian masyarakat dll)
PT NUTRIFOOD INDONESIA mengadakan acara-acara sebagai bentuk kepedulian kepada lingkungan sekitar, diantaranya perekrutan tenaga kerja dari sekitar, kegiatan Qurban bersama, dan sebagainya.
PT NUTRIFOOD INDONESIA juga mengadakan acara-acara penghargaan untuk masyarakat di Indonesia, diantaranya:
• Nutrifood Leadership Award adalah acara penghargaan kepemimpinan mahasiswa Indonesia. Pertama diadakan pada tahun 2006, yang dikenal sebagai Beasiswa Kepemimpinan
• HiLo Green Ambassador
HiLo Green Ambassador adalah kompetisi modeling untuk menjadi duta lingkungan yang nantinya bersama HiLo menginspirasi masyarakat dalam meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
• L-Men of the Year
L-Men of The Year (atau dikenal sebagai LOTY) merupakan acara tahunan dari L-Men yang bertujuan untuk menginspirasi orang-orangIndonesia untuk melaksanakangaya hidup sehat melalui nutrisi yang benar dan teratur berolahraga. LOTY ini juga diadakan sebagai penghargaan kepada konsumen L-Men yang sukses dalam membentuk tubuh mereka melalui gaya hidup sehat.
Acara ini dimulai sejak tahun 2004 dan rutin diadakan tiap tahunnya yang disponsori oleh produsen susu pria, L-Men. Dan pemenang akan dipilih untuk mewakili Indonesia pada ajang bertaraf internasional, Manhunt International. Selain itu ditahun 2008, ajang ini mengirimkan wakilnya ke kontes pria lainnya Mister International.
• Miss WRP
Adalah ajang pemilihan wanita Indonesia yang memiiki body tubuh langsing dan berpenampilan menarik.
System Pemasaran produk/jasa Perusahaan Tempat PI
• Produk Global
Untuk menjangkau konsumen internasional, Nutrifood bersama BE GLOBAL FOOD FZCO, telah mendistribusikan produk-produk kami ke lebih dari 30 negara di dunia seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, Filipina, Saudi Arabia, Vietnam, Nigeria, Croatia, Slovenia, Egypt, Maldives, Fiji, Australia, dan sebagainya.
Untuk informasi lebih lanjut
Phone : 62-21–46825370(Global)
Email : sales@beglobalfood.com
Website : www.beglobalfood.com
• Produk Lokal
Produk-produk Nutrifood telah didistribusikan baik melalui jaringan distribusi milik sendiri, maupun melalui kerjasama dengan mitra distributor lokal di seluruh Indonesia yang merupakan hubungan bersifat jangka panjang, berdasarkan praktik bisnis dan profesionalisme yang saling menguntungkan.
Jaringan distribusi kami telah membantu menyebarkan produk-produk kami ke seluruh Indonesia, untuk menginspirasi Indonesia dalam menjalankan pola hidup sehat dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi kami di:
PT Nutrifood Indonesia
Jl. Rawabali II, No. 3
Pulogadung Industrial Estate
Jakarta 13920, Indonesia
Tel: 021- 460 4070 (Operator) / 021 – 468 22211 (Customer Relation Center)
Email: customer@nutrifood.co.id
Departemen PQL (Plant Quality Control and Laboratory) merupakan salah satu departemen di PT Nutrifood Indonesia yang memiliki tugas untuk melakukan pengawasan terhadap kualitas produk yang dihasilkan oleh PT Nutrifood Indonesia dengan inspeksi yang dilakukan sesuai dengan standard operasional prosedur yang berlaku. Selaln pegawasan terhadap produk, departemen PQL juga bertugas untuk menjamin kesesuaian alat ukur yang digunakan dengan melakukan verifikasi berkala terhadap alat-alat yang digunakan dan kegiatan kalibrasi.
Inspeksi / Pengetesan merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan dengan mengamati suatu atau beberapa karakteristik tertentu dari barang produksi meliputi bahan baku, bahan kemas, barang dalam proses (WIP), dan produk jadi (reference sample) sesuai dengan standard operasional prosedur yang berlaku dengan membandingkan dengan spesifikasi atau standar yang berlaku. Sementara itu, pengendalian alat ukur mencakup kegiatan perencanaan, pemilihan, pemeliharaan, dan kalibrasi alat-alat ukur yang digunakan dalam proses inspeksi dan pengetesan mutu. Pemantauan reference sample meliputi kegiatan inspeksi dan pengetesan yang dilakukan secara periodik atas sejumlah sample.
Sub Bagian Quality control
1. QC Bahan Baku
2. QC Bahan Kemas
3. QC Work In Process
4. QC Reference
5. QC Kalibrasi
6. QC RTD
Setiap sub bagian quality control memilki tugas dan tanggung jawab masing-masing yang saling berhubungan membentuk suatu kesatuan Quality Control yang solid.
Penanganan Limbah Perusahaan Tempat PI
Limbah yang ada di pabrik PT NUTRIFOOD INDONESIA terdiri dari limbah padat cair dan gas.
a. Limbah Padat,
Limbah padat terdiri dari kardus,plastic,sisa kayu pallet,sisa-sisa kemasan dan sebagainya. Penanganan limbah padat adalah dengan cara ada yang didaur-ulang, seperti kayu bekas untuk dijadikan pallet baru, adapula limbah padat yang dijual ataupun yang discrap.
b. Limbah Cair
Limbah cair berupa asam/basa sisa-sisa proses Cleaning in place , sisa pencucian, sisa produksi dan sisa proses sanitasi. Penanganan limbah Cair adalah dibuat IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) kemudian disalurkan ke kolam indicator yang berisi ikan sebelum dibuang kesungai.
c. Limbah Gas
Limbah gas dari pabrik contohnya adalah gas metan. Penanganan limbah gas ini adalah dengan cara dilakukan pembakaran gas metane sebelum dibuang ke udara lepas.
Produk hasil olah dan sasaran pemakai local/Eksport/ Import Perusahaan Tempat PI
Produk-produk PT NUTRIFOOD INDONESIA telah diekspor lebih dari 20 negara. Juga untuk pasaran dalam negeri yang mengalami peningkatan tiap tahunnya.
Pola Kerjasama, Anak binaan Usaha, dari Perusahaan Tempat PI
PT NUTRIFOOD INDONESIA memiliki Kerjasama dan Anak binaan Usaha yang saling padu dalam memproduksi makanan dan minuman kesehatan, diantaranya adalah PKIS Sekar Tandjoeng, Buana Tirta Usaha, PT Greenfield Indonesia, PT Makindo, PT Kobe lina, dan PT Quindofood. Dengan berbagai macam produk dari berbagai pabrik, maka kebutuhan dari konsumen dapat terpenuhi.
Kepedulian ke Lingkungan sekitar Perusahaan Tempat PI ( beasiswa, Rekruit tenaga kerja sekitar, dana social, pengabdian masyarakat dll)
PT NUTRIFOOD INDONESIA mengadakan acara-acara sebagai bentuk kepedulian kepada lingkungan sekitar, diantaranya perekrutan tenaga kerja dari sekitar, kegiatan Qurban bersama, dan sebagainya.
PT NUTRIFOOD INDONESIA juga mengadakan acara-acara penghargaan untuk masyarakat di Indonesia, diantaranya:
• Nutrifood Leadership Award adalah acara penghargaan kepemimpinan mahasiswa Indonesia. Pertama diadakan pada tahun 2006, yang dikenal sebagai Beasiswa Kepemimpinan
• HiLo Green Ambassador
HiLo Green Ambassador adalah kompetisi modeling untuk menjadi duta lingkungan yang nantinya bersama HiLo menginspirasi masyarakat dalam meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
• L-Men of the Year
L-Men of The Year (atau dikenal sebagai LOTY) merupakan acara tahunan dari L-Men yang bertujuan untuk menginspirasi orang-orangIndonesia untuk melaksanakangaya hidup sehat melalui nutrisi yang benar dan teratur berolahraga. LOTY ini juga diadakan sebagai penghargaan kepada konsumen L-Men yang sukses dalam membentuk tubuh mereka melalui gaya hidup sehat.
Acara ini dimulai sejak tahun 2004 dan rutin diadakan tiap tahunnya yang disponsori oleh produsen susu pria, L-Men. Dan pemenang akan dipilih untuk mewakili Indonesia pada ajang bertaraf internasional, Manhunt International. Selain itu ditahun 2008, ajang ini mengirimkan wakilnya ke kontes pria lainnya Mister International.
• Miss WRP
Adalah ajang pemilihan wanita Indonesia yang memiiki body tubuh langsing dan berpenampilan menarik.
System Pemasaran produk/jasa Perusahaan Tempat PI
• Produk Global
Untuk menjangkau konsumen internasional, Nutrifood bersama BE GLOBAL FOOD FZCO, telah mendistribusikan produk-produk kami ke lebih dari 30 negara di dunia seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, Filipina, Saudi Arabia, Vietnam, Nigeria, Croatia, Slovenia, Egypt, Maldives, Fiji, Australia, dan sebagainya.
Untuk informasi lebih lanjut
Phone : 62-21–46825370(Global)
Email : sales@beglobalfood.com
Website : www.beglobalfood.com
• Produk Lokal
Produk-produk Nutrifood telah didistribusikan baik melalui jaringan distribusi milik sendiri, maupun melalui kerjasama dengan mitra distributor lokal di seluruh Indonesia yang merupakan hubungan bersifat jangka panjang, berdasarkan praktik bisnis dan profesionalisme yang saling menguntungkan.
Jaringan distribusi kami telah membantu menyebarkan produk-produk kami ke seluruh Indonesia, untuk menginspirasi Indonesia dalam menjalankan pola hidup sehat dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi kami di:
PT Nutrifood Indonesia
Jl. Rawabali II, No. 3
Pulogadung Industrial Estate
Jakarta 13920, Indonesia
Tel: 021- 460 4070 (Operator) / 021 – 468 22211 (Customer Relation Center)
Email: customer@nutrifood.co.id
Manisan buah adalah buah yang diawetkan dengan gula. Tujuan pemberian gula dengan kadar yang tinggi pada manisan buah, selain untuk memberikan rasa manis, juga untuk mencegah tumbuhnya mikroorganisme (jamur, kapang). Dalam proses pembuatan manisan buah ini juga digunakan bubuk tawas untuk mempertahankan bentuk (tekstur) serta menghilangkan rasa gatal atau getir pada buah.
Pembuatan manisan buah ini, merupakan usaha kerajinan yang telah banyak dilakukan orang sejak dahulu. Usaha ini memerlukan ketrampilan atau pengalaman yang khusus. Ada 2 macam bentuk olahan manisan buah, yaitu manisan basah dan manisan kering. Manisan basah diperoleh setelah penirisan buah dari larutan gula, sedangkan manisan kering diperoleh bila manisan yang pertama kali dihasilkan (manisan basah) dijemur sampai kering.
Manisan biasanya dibuat dari buah. Produk ini merupakan bahan setengah kering dengan kadar air sekitar 25%,dankadar gula di atas 60%). Kondisi ini memungkinkan manisan dapat disimpan lama karena kebanyakan mikroba tidak dapat tumbuh pada bahan.
Manisan kering (somboy) kulit jeruk bali pada umumnya belum dikenal oleh masyarakat, dan produk ini belum tersedia di pasaran Walaupun demikian, produksi ini merupakan alternatif usaha yang mungkin menguntungkan karena cara pembuatannya sederhana, tidsk mahal, dan penampilan produk cukup menarik.Ada dua jenis manisan yaitu manisan basah dan manisan kering. Manisan basah tidak dapat disimpan lama dan penyimpananya dianjurkan didalam lemari pendingin (kulkas). Sedangkan manisan kering dapat disimpan lama, dan dapat disimpan pada suhu ruang.
BAHAN
• 10 kg kulit jeruk bali
• 10 liter larutan kapur sirih
• 10 gr bubuk tawas
• 10 liter larutan gula merah 40%
• 4 batang kayu manis
• 7 gr natrium benzoat
• 50 gr asam sitrat
ALAT
• Pisau
• Panci
• Saringan
• Sendok makan
• Sendok teh
• Kantong plastik
• Lilin
• Baskom
• Kompor atau tungku
CARA PEMBUATAN
• Kupas kulit jeruk, buang bagian luarnya yang bewarna hijau. Potong sesuai selera.
• Rendam irisan kulit jeruk dalam larutan kapur sirih dan tawas selama 2 hari sampai kulit jeruk keras dan kenyaal. Cuci bersih, tiriskan.
• Rebus dalam air mendidih selama 5 menit
• Buat larutan gula merah 40%, lalu didihkan bersama kayu manis. Masukkan potongan kulit jeruk, masak dengan api kecil sambil diaduk hingga laritan gula mengering. Angkat, tambahkan natrium benzoat dan asam sitrat. Aduk terus. Tiriskan.
• Keringkan di atas alluminium foil sampai tingkat kekeringan yang diinginkan, potong-potong semenarik mungkin.
• Kemas manisan.
Uji pembedaan biasanya menggunakan anggota panelis yang ber jumlah 15-30 orang yang terlatih. Dengan panelis demikian biaya penyclenggaraan Iebih kecil dan hasil pengujiannya cukup peka. Segi kerugiannya ialah bahwa hasil pengujiannya tidak dapat mem ben petunjuk apakah perbeciaan itu dikehendaki atau tidak.
Macam-macam uji pembedaan
1. Uji pasangan
Uji pasangan juga disebut paired comparison, paired test atau dual corn paration. Cara pengujian mi termasuk paling sederhana dan paling tua, karena itu juga sering digunakan. Dalam pengujian de ngan uji pasangan, dua contoh disajikan bersamaan atau berurutan dengan nomor kode berlainan. Masing-masing anggota panel diminta menyatakan ada atau tidak ada perbedaan dalam hal sifat yang d ujikan. Agar pengujian mi cfektif, sifat atau kriteria yang diujikan harus jelas dan dipahami paneis.
Ada dua cara uji pasangan yaitu dengan dan tanpa dengan bahan pembanding (reference). Dan dua contoh yang disajikan yang satu dapat merupakan bahan pembanding atau sebagai kontrol sedang kan yang lain sebagai yang dibandingkan, dinilai atau yang diuji. mi dilakukan misalnya membandingkan hasil cara pengolahan lama sebagai contoh baku atau pembanding dan hasil cara pengolahan baru yang dibandingkan atau dinilai. Dalam hal uji pasangan dengan pembanding, bahan pembanding dicicip lebih dulu baru contoh ke dua. Tetapi dapat juga dua contoh itu tidak mempunyai bahan pem banding. Misalnya membandingkan 2 macam hasil dan dua daerah. Dalam hal mi ingin diketahui atau dinilai ialah ada atau tidak ada nya perbedaan sifat basil dan kcdua daerah itu. Dalam uji pasangan, pengujian dapat dianggap cukup jika panelis telah dapat menyatakan ada atau tidak adanya perbedaan. Dalam uji pasangan tanpa bahan pembanding kedua contoh itu disajikan secara acak. Di samping itu pengelola pengujian dapat pula meminta keterangan lebih lanjut pada para panelis untuk menyatakan lebih lanjut tingkat perbedaan. Ting kat perbedaan dapat dinyatakan, misalnya: perbcdaan sedikit, Se dang, banyak.
Meskipun uji pasangan itu sederhana penyelenggaraannya, tetapi tidak mudah dalam memberi interpretasi hasil analisisnya. Karena hanya 2 contoh disajikan bersama-sama maka chance of probability dan masing-masing contoh untuk dipilih adalah V2 atau 50%. Ke simpulan tidak dapat diambil jika panelisnya sedikit. Jumlah panelis yang dibutuhkan biasanya di atas 10 orang.
2. Uji segitiga (triangle test)
Uji segitiga digunakan untuk mendeteksi perbedaan yang kecil. Peng ujian mi lebih banyak digunakan karena lebih peka daripada uji pasangan. Uji mi mula-mula diperkenalkan oleh 2 ahli statistik Den mark pada tahun 1946. Dalam pengujian mi kepada masing-masing panelis disajikan secara acak 3 contoh berkode. Pengujian ketiga contoh itu biasanya dilakukan bersamaan tetapi dapat pula berurut an. Dua dan 3 contoh itu sama dan yang ketiga berlainan. Panells diminta memilih satu di antara 3 contoh yang berbeda dan 2 yang lain. Dalam uji mi tidak ada contoh baku atau pembanding.
Dalam memberi penilaian tidak boleh ragu-ragu, hams memilih atau menerka salah satu yang dianggap paling berbeda. Demikian pula jika panclis tidak dapat membedakan ketiga contoh tersebut. Karena 3 contoh sekaligus maka hams disiapkan agar ketiga ukuran, bentuk, warna atau sifat-sifat contoh yang tidak dimiliki dibuat sama. Sebagaimana halnya uji pasangan, dalam uji segitiga dapat pula ditanyakan lcbih lanjut tingkat perbedaan. rrctapi hasil mengenai tingkat perbedaan tidak lagi peka atau kurang meyakinkan. Dalam uji segitiga kescragaman ketiga contoh sangat penting agar dapat dihindari pengaruh penyajian.
Di dalam pelaksanaan uji segitiga, panelis diminta mcmilih satu di antara 3 contoh yang berbeda dengan yang lain. Karena contoh yang dinilai ada tiga maka peluang secara acak adalah 1/3 atau
331/3%.
3 Uji duo-trio
Uji mi scpcrti halnya pada uji segitiga, tiap-tiap anggota panel disajikan 3 contoh, 2 contoh dan bahan yang sama dan contoh ketiga dan bahan yang lain. Bedanya ialah bahwa salah satu dan 2 contoh yang sama itu dicicip atau dikenali dulu dan dianggap sebagai con toh baku, sedangkan kedua contoh lainnya kemudian. Dalam penyu guhannya ketiga contoh itu dapat diberikan bcrsamaan. Atau contoh bakunya diberikan lcbih dulu baru kemudian kedua contoh yang lain disuguhkan.
Dalam pelaksanaan uji, panelis diminta untuk memilih satu di antara
2 contoh tcrakhir yang sama dengan contoh baku atau pembanding.
Karena contoh yang dinilai ada dua maka peluang secara acak adalah
‘/2 atau 50%.
4. Uji pembanding ganda (dual standards)
Uji pembanding ganda juga disebut dual sMndards. Bentuk penguji an pcmbanding ganda menyerupai uji duo-trio. Jika pada uji duo- trio digunakan satu contoh baku sebagai pembanding maka pada uji pembanding ganda digunakan dua contoh baku sebagai pemban ding yaitu A dan B. Kedua contoh pembanding itu disuguhkan ber samaan sebelum contoh-contoh yang akan diuji diberikan. Panelis diwajibkan mengenali dan mengirigat sifat-sifat sensonik kedua contoh pembanding yang diujikan, misalnya jika baii tengik yang diujikan maka panelis harus sudah betul-betul mengenali dan hafal bau tengik itu dan pembauan. Setelah semua panelis yang akan melaksa nakan uji bau itu betul-betul mengetahui bau tengik pada contoh pembanding, barulah dua contoh yang diujikan disuguhkan secara acak.
Dalam pengujian mi panelis diminta menyebut yang mana dan kedua contoh yang diujikan sama dengan pembanding A dan yang mana yang sama dengan pembanding B. Uji mi balk untuk membe dakan bau-bauan atau sifat bau komoditi. Di samping itu uji mi juga baik digunakan untuk memilih suatu tim panelis yang akan diguna kan sebagai panel penguji pembedaan. Karena jumlah contoh yang dinilai ada dua maka peluang secara acak adalah ‘/2 atau 50%.
5. Uji pem banding jamak (muitp!e standards)
Uji peznbandirig jamak juga disebut multiple standards. Dalam uji pembanding janiak digunakan 3 atau Iebih contoh pembanding.
Macam-macam uji pembedaan
1. Uji pasangan
Uji pasangan juga disebut paired comparison, paired test atau dual corn paration. Cara pengujian mi termasuk paling sederhana dan paling tua, karena itu juga sering digunakan. Dalam pengujian de ngan uji pasangan, dua contoh disajikan bersamaan atau berurutan dengan nomor kode berlainan. Masing-masing anggota panel diminta menyatakan ada atau tidak ada perbedaan dalam hal sifat yang d ujikan. Agar pengujian mi cfektif, sifat atau kriteria yang diujikan harus jelas dan dipahami paneis.
Ada dua cara uji pasangan yaitu dengan dan tanpa dengan bahan pembanding (reference). Dan dua contoh yang disajikan yang satu dapat merupakan bahan pembanding atau sebagai kontrol sedang kan yang lain sebagai yang dibandingkan, dinilai atau yang diuji. mi dilakukan misalnya membandingkan hasil cara pengolahan lama sebagai contoh baku atau pembanding dan hasil cara pengolahan baru yang dibandingkan atau dinilai. Dalam hal uji pasangan dengan pembanding, bahan pembanding dicicip lebih dulu baru contoh ke dua. Tetapi dapat juga dua contoh itu tidak mempunyai bahan pem banding. Misalnya membandingkan 2 macam hasil dan dua daerah. Dalam hal mi ingin diketahui atau dinilai ialah ada atau tidak ada nya perbedaan sifat basil dan kcdua daerah itu. Dalam uji pasangan, pengujian dapat dianggap cukup jika panelis telah dapat menyatakan ada atau tidak adanya perbedaan. Dalam uji pasangan tanpa bahan pembanding kedua contoh itu disajikan secara acak. Di samping itu pengelola pengujian dapat pula meminta keterangan lebih lanjut pada para panelis untuk menyatakan lebih lanjut tingkat perbedaan. Ting kat perbedaan dapat dinyatakan, misalnya: perbcdaan sedikit, Se dang, banyak.
Meskipun uji pasangan itu sederhana penyelenggaraannya, tetapi tidak mudah dalam memberi interpretasi hasil analisisnya. Karena hanya 2 contoh disajikan bersama-sama maka chance of probability dan masing-masing contoh untuk dipilih adalah V2 atau 50%. Ke simpulan tidak dapat diambil jika panelisnya sedikit. Jumlah panelis yang dibutuhkan biasanya di atas 10 orang.
2. Uji segitiga (triangle test)
Uji segitiga digunakan untuk mendeteksi perbedaan yang kecil. Peng ujian mi lebih banyak digunakan karena lebih peka daripada uji pasangan. Uji mi mula-mula diperkenalkan oleh 2 ahli statistik Den mark pada tahun 1946. Dalam pengujian mi kepada masing-masing panelis disajikan secara acak 3 contoh berkode. Pengujian ketiga contoh itu biasanya dilakukan bersamaan tetapi dapat pula berurut an. Dua dan 3 contoh itu sama dan yang ketiga berlainan. Panells diminta memilih satu di antara 3 contoh yang berbeda dan 2 yang lain. Dalam uji mi tidak ada contoh baku atau pembanding.
Dalam memberi penilaian tidak boleh ragu-ragu, hams memilih atau menerka salah satu yang dianggap paling berbeda. Demikian pula jika panclis tidak dapat membedakan ketiga contoh tersebut. Karena 3 contoh sekaligus maka hams disiapkan agar ketiga ukuran, bentuk, warna atau sifat-sifat contoh yang tidak dimiliki dibuat sama. Sebagaimana halnya uji pasangan, dalam uji segitiga dapat pula ditanyakan lcbih lanjut tingkat perbedaan. rrctapi hasil mengenai tingkat perbedaan tidak lagi peka atau kurang meyakinkan. Dalam uji segitiga kescragaman ketiga contoh sangat penting agar dapat dihindari pengaruh penyajian.
Di dalam pelaksanaan uji segitiga, panelis diminta mcmilih satu di antara 3 contoh yang berbeda dengan yang lain. Karena contoh yang dinilai ada tiga maka peluang secara acak adalah 1/3 atau
331/3%.
3 Uji duo-trio
Uji mi scpcrti halnya pada uji segitiga, tiap-tiap anggota panel disajikan 3 contoh, 2 contoh dan bahan yang sama dan contoh ketiga dan bahan yang lain. Bedanya ialah bahwa salah satu dan 2 contoh yang sama itu dicicip atau dikenali dulu dan dianggap sebagai con toh baku, sedangkan kedua contoh lainnya kemudian. Dalam penyu guhannya ketiga contoh itu dapat diberikan bcrsamaan. Atau contoh bakunya diberikan lcbih dulu baru kemudian kedua contoh yang lain disuguhkan.
Dalam pelaksanaan uji, panelis diminta untuk memilih satu di antara
2 contoh tcrakhir yang sama dengan contoh baku atau pembanding.
Karena contoh yang dinilai ada dua maka peluang secara acak adalah
‘/2 atau 50%.
4. Uji pembanding ganda (dual standards)
Uji pembanding ganda juga disebut dual sMndards. Bentuk penguji an pcmbanding ganda menyerupai uji duo-trio. Jika pada uji duo- trio digunakan satu contoh baku sebagai pembanding maka pada uji pembanding ganda digunakan dua contoh baku sebagai pemban ding yaitu A dan B. Kedua contoh pembanding itu disuguhkan ber samaan sebelum contoh-contoh yang akan diuji diberikan. Panelis diwajibkan mengenali dan mengirigat sifat-sifat sensonik kedua contoh pembanding yang diujikan, misalnya jika baii tengik yang diujikan maka panelis harus sudah betul-betul mengenali dan hafal bau tengik itu dan pembauan. Setelah semua panelis yang akan melaksa nakan uji bau itu betul-betul mengetahui bau tengik pada contoh pembanding, barulah dua contoh yang diujikan disuguhkan secara acak.
Dalam pengujian mi panelis diminta menyebut yang mana dan kedua contoh yang diujikan sama dengan pembanding A dan yang mana yang sama dengan pembanding B. Uji mi balk untuk membe dakan bau-bauan atau sifat bau komoditi. Di samping itu uji mi juga baik digunakan untuk memilih suatu tim panelis yang akan diguna kan sebagai panel penguji pembedaan. Karena jumlah contoh yang dinilai ada dua maka peluang secara acak adalah ‘/2 atau 50%.
5. Uji pem banding jamak (muitp!e standards)
Uji peznbandirig jamak juga disebut multiple standards. Dalam uji pembanding janiak digunakan 3 atau Iebih contoh pembanding.
Analisis gravimetri merupakan salah satu metode analisis kuantitatif dengan penimbangan. Tahap awal analisis gravimetri adalah pemisahan komponen yang ingin diketahui dari komponen-komponen lain yang terdapat dalam suatu sampel kemudian dilakukan pengendapan.
Pengukuran dalam metode gravimetri adalah dengan penimbangan, banyaknya komponen yang dianalisis ditentukan dari hubungan antara berat sampel yang hendak dianalisis, massa atom relatif, massa molekul relatif dan berat endapan hasil reaksi.
Analisis gravimetri dapat dilakukan dengan cara pengendapan, penguapan dan elektrolisis.
1. Metode Pengendapan
Suatu sampel yang akan ditentukan seara gravimetri mula-mula ditimbang secara kuantitatif, dilarutkan dalam pelarut tertentu kemudian diendapkan kembali dengan reagen tertentu. Senyawa yang dihasilkan harus memenuhi sarat yaitu memiliki kelarutan sangat kecil sehingga bisa mengendap kembali dan dapat dianalisis dengan cara menimbang.
Endapan yang terbentuk harus berukuran lebih besar dari pada pori-pori alat penyaring (kertas saring), kemudian endapan tersebut dicuci dengan larutan elektrolit yang mengandung ion sejenis dengan ion endapan.
Hal ini dilakukan untuk melarutkan pengotor yang terdapat dipermukaan endapan dan memaksimalkan endapan. Endapan yang terbentuk dikeringkan pada suhu 100-130 derajat celcius atau dipijarkan sampai suhu 800 derajat celcius tergantung suhu dekomposisi dari analit.
Pengendapan kation misalnya, pengendapan sebagai garam sulfida, pengendapan nikel dengan DMG, pengendapan perak dengan klorida atau logam hidroksida dengan mengetur pH larutan. Penambahan reagen dilakukan secara berlebihan untuk memperkecil kelarutan produk yang diinginkan.
aA +rR ———-> AaRr(s)
Penambahan reagen R secara berlebihan akan memaksimalkan produk AaRr yang terbentuk.
2. Metode Penguapan
Metode penguapan dalam analisis gravimetri digunakan untuk menetapkan komponen-komponen dari suatu senyawa yang relatif mudah menguap. Cara yang dilakukan dalam metode ini dapat dilakukan dengan cara pemanasan dalam gas tertentu atau penambahan suatu pereaksi tertentu sehingga komponen yang tidak diinginkan mudah menguap atau penambahan suatu pereaksi tertentu sehingga komponen yang diinginkan tidak mudah menguap.
Metode penguapan ini dapat digunakan untuk menentukan kadar air(hidrat) dalam suatu senyawa atau kadar air dalam suatu sampel basah. Berat sampel sebelum dipanaskan merupakan berat senyawa dan berat air kristal yang menguap. Pemanasan untuk menguapkan air kristal adalah 110-130 derajat celcius, garam-garam anorganik banyak yang bersifat higroskopis sehingga dapat ditentukan kadar hidrat/air yang terikat sebagai air kristal.
3. Metode Elektrolisis
Metode elektrolisis dilakukan dengan cara mereduksi ion-ion logam terlarut menjadi endapan logam. Ion-ion logam berada dalam bentuk kation apabila dialiri dengan arus listrikndengan besar tertentu dalam waktu tertentu maka akan terjadi reaksi reduksi menjadi logam dengan bilangan oksidasi 0.
Endapan yang terbentuk selanjutnya dapat ditentukan berdasarkan beratnya, misalnya mengendapkan tembaga terlarut dalam suatu sampel cair dengan cara mereduksi. Cara elektrolisis ini dapat diberlakukan pada sampel yang diduga mengandung kadar logam terlarut cukup besar seperti air limbah.
Suatu analisis gravimetri dilakukan apabila kadar analit yang terdapat dalam sampel relatif besar sehingga dapat diendapkan dan ditimbang. Apabila kadar analit dalam sampel hanya berupa unsurpelarut, maka metode gravimetri tidak mendapat hasil yang teliti. Sampel yang dapat dianalisis dengan metode gravimetri dapat berupa sampel padat maupun sampel cair.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 722/Menkes/Per/IX/88 Tentang Bahan Tambahan Makanan, terdapat beberapa zat pengawet makanan baik alami maupun kimia yang aman konsumsi antara lain :
1. Asam Benzoat
2. Asam Propionat
3. Asam Sorbat
4. Belerang Oksida
5. Etil p-Hidroksida Benzoat
6. Kalium Benzoat
7. Kalium Bisulfit
8. Kalium Meta Bisulfit
9. Kalium Nitrat
10. Kalium Nitrit
11. Kalium Propionat
12. Kalium Sorbat
13. Kalium Sulfit 14. Kalsium benzoat
15. Kalsium Propionat
16. Kalsium Sorbat
17. Natrium Benzoat
18. Metil-p-hidroksi Benzoat
19. Natrium Bisulfit
20. Natrium Metabisulfit
21. Natrium Nitrat
22. Natrium Nitrit
23. Natrium Propionat
24. Natrium Sulfit
25. Nisin
26. Propil-p-hidroksi Benzoat
Penambahan bahan pengawet pada produk pangan menjadi bahan perhatian utama mengingat perkembangan iptek pangan menyangkut hal tersebut yang begitu cepat serta sering menimbulkan teka-teki bagi konsumen menyangkut keamanannya.
Garam atau NaCl
Telah berabad lampau digunakan hingga saat ini sebagai bahan pengawet terutama untuk daging dan ikan. Larutan garam yang masuk ke dalam jaringan dan mengikat air bebasnya, sehingga menghambat pertumbuhan dan aktivitas bakteri penyebab pembusukan, kapang, dan khamir.
Produk pangan hasil pengawetan dengan garam dapat memiliki daya simpan beberapa minggu hingga bulan dibandingkan produk segarnya yang hanya tahan disimpan selama beberapa jam atau hari pada kondisi lingkungan luar.
Ikan pindang, ikan asin, telur asin dan sebagainya merupakan contoh produk pangan yang diawetkan dengan garam.
Gula atau sukrosa
Gula atau sukrosa merupakan karbohidrat berasa manis yang sering pula digunakan sebagai bahan pengawet khususnya komoditas
yang telah mengalami perlakuan panas. Perendaman dalam larutan gula secara bertahap pada konsentrasi yang semakin tinggi merupakan salah satu cara pengawetan pangan dengan gula. Gula seperti halnya garam juga menghambat pertumbuhan dan aktivitas bakteri penyebab pembusukan, kapang, dan khamir.
Dendeng, manisan basah dan atau buah kering merupakan contoh produk awet yang banyak dijual di pasaran bebas.
Cuka buah atau vinegar
Merupakan salah satu bahan yang dapat digunakan untuk mengawetkan daging, asyuran maupun buah-buahan. Acar timun, acar bawang putih, acar kubis (kimchee) merupakan produk pangan yang diawetkan dengan penambahan asam atau cuka buah atau vinegar.
Data pengaturan bahan pengawet dari Codex Alimetarius Commission (CAC), USA (CFR), Australia dan New Zealand (FSANZ) tercatat 58 jenis bahan pengawet yang dapat digunakan dalam produk pangan. Indonesia melalui Peraturan Menteri Kesehatan No. 722 tahun 1988 telah mengatur sebanyak 26 jenis bahan pengawet.
Tempe adalah salah satu makanan khas Indonesia, yang di buat dengan cara memfermentasi kacang kedelai / kacang-kacangan lain yang dapat difermentasi dengan Rhizopus oligosporus.Tempe adalah salah satu makanan yang mengandung protein tinggi. Kedelai yang merupakan bahan dasar yang mengandung kadar protein 35% bahkan pada varietas unggul dapat mencapai 40-43% protein kacang protein.soy memiliki yang lebih tinggi, hampir menyamai kadar protein susu skim kering.
Alat dan bahan
Alat :
Baskom
Sendok kayu
Plastik/daun pembungkus
Baskom *
Bahan :
kedelai
Panci ragi tempe
Panci ragi tempe
Cara kerja
I. PENGERTIAN NATA DE SOYA
Nata
adalah biomassa yang sebagian besar terdiri dari selulosa, berbentuk agar dan
berwarna putih. Massa
ini berasal pertumbuhan Acetobacter xylinum pada permukaan media cair yang asam
dan mengandung gula.
Nata
dapat dibuat dari bahan baku
air kelapa, dan limbah cair pengolahan tahu (whey tahu). Nata yang dibuat dari
air kelapa disebut dengan nata de coco, dan yang dari whey tahu disebut dengan
nata de soya. Bentuk, warna, tekstur dan rasa kedua jenis nata tersebut tidak
berbeda.
II. ALAT
1. Alat untuk Penyiapan Biakan Murni – Alat pensteril
- Tabung reaksi dan kapas.
- Jarum ose
- Kotak inokulasi
- Lampu spritus
- Gelas piala
- Kompor
- Kotak inkubasi
- Lemari pendingin (kulkas)
- Timbangan
- pH meter
2. Pembuatan Starter.
- Botol bermulut lebar
- Kertas.
- Ruang inkubasi
- Wadah perebus media
- Timbangan
- pH meter.
3. Fermentasi
- Wadah fermentasi
- Wadah perebus media
- Ruang fermentasi
- Timbangan
- Kompor
- pH meter.
3. Pemanenan Hasil
- Wadah perendam dan perebus
- Pemotong nata.
III. BAHAN
1. Penyiapan biakan murni.
- Biakan murni A.xylinum
- Glukosa (100 gram)
- Ekstrak khamir (5 gram)
- K2HPO4 (5gram)
- (NH4)2SO4 (0,6 gram)
- MgSO4 (0,2 gram)
- Agar (18 gram)
- Air kelapa (1 liter)
- Asam Asetat 25 % untuk mengatur pH menjadi 3-4
2. Pembuatan Starter
- Biakan murni A.xylinum
- Gulkosa 100 gram
- Urea 5 gram
- Air kelapa 1 liter
- Asam Asetat 25 % untuk 25% untuk mengatur pH
menjadi 3-4
3. Fermentasi Nata.
- Starter
- Glukosa
- Urea
- Limbah cair tahu (whey tahu)
- Asam Asetat 25 % untuk 25% untuk mengatur pH
menjadi 3-4
IV. CARA PEMBUATAN
1. Penyiapan biakan murni.
Agar (15-18 gram) dimasukkan ke dalam 500 ml air kelapa, kemudian
dipanaskan sampai larut. Setelah itu tambahkan ekstrak ragi (5 gram) dan
diaduk sampai larut (larutan a)
Gula (75 gram) dan asam asetat (15 ml) dimasukkan ke dalam 500 ml air
kelapa segar yang lain dan diaduk sampai gula larut (larutan b)
Larutan (a) sebanyak 3-4 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian
tutup dengan kapas. Larutan (b) 3-4 ml juga dimasukkan ke dalam tabung reaksi
yang lain, kemudian ditutup dengan kapas. Masing-masing disterilkan pada suhu
121°C selama 20 menit.
Setelah selesai sterilisasi dan larutan tidak terlalu panas lagi, larutan
(a) dituangkan ke larutan (b) secara aseptis. Setelah itu 1 tabung berisi
larutan b diletakkan secara miring utnuk membuat agar miring dan ditunggu
sampai agar mengeras.
Inokulum Acetobacter xylinum diinokulasikan pada agar miring diatas.
Kemudian diinkubasikan pada suhu kamar atau pada suhu 30°C sampai
tampak pertumbuhan bakteri serupa keloid mengkilat dan bening pada permukaan
agar miring.
2. Pembuatan Starter.
Air kelapa diendapkan, kemudian disaring dengan beberapa lapis kain kassa,
kemudian dipanaskan sampai mendidih dengan api besar sambil diaduk-aduk.
Setelah mendidih, ditambahkan (a) asam asetat glasial (10- 20 ml asam asetat
untuk setiap 1 liter air kelapa), dan gula (75-100,0 gram gula untuk tiap 1
liter air kelapa) campuran ini diaduk sampai gula larut. Larutan ini disebut
air kelapa asam bergula.
Urea (sebanyak 3 gram urea untuk setiap 1 liter air kelapa asam bergula
yang disiapkan pada no.1 diatas) dilarutkan di dalam sedikit air kelapa (Setiap
1 gram urea membutuhkan 20 ml air kelapa). Larutan ini dididihkan, kemudian
dituangkan ke dalam air kelapa asam bergula.
Ketika masih panas, media dipindahkan ke dalam beberapa botol bermulut
lebar, masing-masing sebanyak 200 ml. Botol ditutup dengan kapas steril.
Setelah dingin, ditambahkan 4 ml suspensi mikroba. Setelah itu, media
diinkubasi pada suhu kamar selama 6-8 hari (sampai terbentuk lapisan putih pada
permukaan media).
3. Fermentasi Nata
Whey tahu yang masih segar diendapkan, dan disaring dengan beberapa lapis
kain kassa, kemudian dipanaskan sampai mendidih dengan api besar sambil
diaduk-aduk. Setelah mendidih, ditambahkan (a) asam asetat glasial (10 ml asam
asetat untuk setiap 1 liter whey), dan (2) gula (80 gram gula untuk setiap
liter whey). Campuran ini diaduk sampai gula larut. Larutan ini disebut dengan
Whey asam bergula.
a. Urea (sebanyak 5 gram urea untuk setiap 1 liter whey aam berula yang
disiapkan pada no. 1 diatas) dilarutkan di dalam sedikit whey yang telah
dimasak (setiap 1 gram urea membutuhkan 20 ml whey). Larutan ini dididihkan,
kemudian dituangkan ke dalam whey asam bergula. Laruatn yang diperoleh disebut
sebagai media nata. Larutan ini didinginkan sampai suam-suam kuku.
b. Media nata ditambah dengan starter (setiap 1 liter media nata
membutuhkan 50-100 ml starter), kemudian dipindahkan ke dalam wadah-wadah
fermentasi dengan ketinggian media 4 cm. Wadah ditutup dengan kertas yang telah
dipanaskan di dalam oven pada suhu 140°C selama 2 jam. Wadah berisi media ini
disimpan di raung fermentasi selama 12-15 hari sampai terbentuk lapisan nata
yang cukup tebal (1,5 – 2,0 cm).


